Transfusi Darah : Pengertian, Komponen Darah, Pengguna, Langkah, dan Efek Sampingnya Terlengkap

Posted on
4.2 (84.29%) 14 votes

Pengertian Transfusi Darah, Komponen Darah, Pengguna, Langkah, dan Efek Sampingnya

Transfusi darah – Satu kantong donor darah bisa menyelamatkan tiga nyawa mereka yang membutuhkan. Namun, sebelum itu terdapat banyak hal yang wajib diperhatikan sebelum melaksanakan transfusi darah. Masing-masing keadaan yang memerlukan donor darah kemungkinan butuh jenis komponen darah yang beda. Ada yang butuh semua darah, ada yang hanya butuh sel darah merah saja, ada juga yang perlu trombosit saja, ataupun hanya sebagian dari plasma darahnya saja. Berikut penjelasan transfusi darah selengkapnya.

Pengertian Transfusi Darah

Transfusi darah ialah prosedur medis dimana individu tersebut menerima darah yang didonorkan dari orang lain guna membuat kondisi kesehatannya pulih.

Kebutuhan transfusi darah bergantung dari keadaan dan komponen darah yang memerlukan. Jika dilihat menggunakan mata telanjang saja, darah ialah cairan berwarna merah tua. Tetapi ternyata saat diteliti di bawah mikroskop, darah terdiri tersebut banyak komponen yang berbeda, yakni eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit/platelet, serta plasma darah.

Umumnya terdapat lima jenis komponen darah saat disalurkan lewat transfusi darah. Sebelum itu, darah yang didonor dikumpulkan lalu dikirim ke laboratorium guna diproses dan dibagi sesuai kebutuhan, misalnya seperti kantong sel darah merah, platelet darah, plasma, dan/atau cryoprecipitaten.

Baca Juga :   9 Fungsi Hormon Melatonin pada Manusia Terlengkap

Komponen Darah untuk Transfusi Darah

Komponen darah yang diberikan dalam proses transfuse ini tergantung dari keperluan dan fungsinya.

a. Darah utuh (whole blood)

Darah utuh mengandungsemua komponen darah, yakni sel darah merah, sel darah putih serta platelet (~45% volume darah utuh) dan juga plasma darah (~55% volume darah utuh).
Transfusi darah utuh digunakan sesegera mungkin untuk penggantian sel darah merah, misalnya pada kasus kecelakaan dan tindakan operasi.

b. Sel darah merah (Packed Red Cells/PRC)

Satu kantong PRC terdiri atas sel darah merah 150-220 mL tanpa plasma darah sama sekali. Transfusi PRC terutama dibutuhkan untuk pasien anemia, termasuk yang disebabkan kehamilan dan melahirkan, baru pulih operasi tertentu, korban kecelakaan, serta yang mempunyai kelainan darah misalnya thalassemia dan leukemia.

c. Konsentrat platelet (Platelet Concentrate/PC)

Platelet/ trombosit adalah komponen darah yang tak berwarna. Fungsinya utama ialah untuk membantu proses pembekuan pada darah dengan menempel pada dinding-dinding pembuluh darah rusak.
Masa simpan donor platelet ini singkat. Transfusi platelet ditujukan bagi mereka yang mengalami gangguan pada pembentukan platelet bagian sumsum tulang belakang dan gangguan fungsi ataupun jumlah platelet lainnya.

d. FFP (Fresh Frozen Plasma)

FFP ialah komponen darah yang warnanya kekuningan. FFP merupakan jenis produk darah yang diproses dalam darah utuh. FFP terkandung komponen plasma darah padat faktor pembekuan darah, imunoglobulin, albumin, dan faktor VIII (faktor pembekuan darah plasma).

FFP bermanfaat bagi mereka yang mengalami gangguan pada pembekuan darah dan mencegah terjadinya perdarahan berlebih pada pengguna obat (antikoagulan) pengencer darah yang akan menjalani operasi.

e. Cryo-AHF (Cryoprecipitated Anti Haemolytic Factor)

Cryo-AHF atau cryoprecipitaten ialah bagian plasma darah yang kaya akan faktor pembekuan seperti faktor VIII dan fibrinogen.

Baca Juga :   Darah Pada Manusia : Pengertian dan Fungsinya Lengkap

Komponen darah ini dbutuhkan secara selektif bagi mereka yang kelainan faktor pembekuan darah, misalnya hemofilia tipe A (defisiensi faktor VIII) maupun Von Willdebrand disease (kelainan darah turunan).

Pengguna Transfusi Darah

Transfusi darah dilaksanakan pada orang yang sedang mengalami kekurangan darah. Terdapat banyak kondisi yang menyebabkan individu kekurangan darah seperti :

  • Baru saja menjalani sebuah operasi besar sehingga harus melaksanakan transfusi untuk menggantikan darahnya yang hilang tersebut.
  • Mengalami kecelakaan ataupun bencana yang mengakibatkan pendarahan hebat.
  • Mengalami suatu gangguan pada fungsi tubuh tertentu, misalnya seperti anemia, penyakit infeksi yang parah, thalassemia, hemofilia, gangguan fungsi hati, serta trombositopenia.

Langkah Transfusi Darah Aman

Transfusi darah termasuk salah satu tindakan medis yang memunyai banyak risiko. Maka, pemberiannya harus secara langsung dari pengawasan petugas medis. Volume darah masuk tidak sembarangan, karena harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh guna menerima komponen darah tersebut.

Untuk memastikan berjalan dengan aman, biasanya petugas medis melaksanakan pengecekan terhadap label komponen darah yang tertera dan memonitori tanda-tanda vital pada pasien dengan lebih intensif.

Masing-masing dari komponen sel darah mempunyai rentang waktu yang beda sebelum komponen mengalami kerusakan. Hal ini mempengaruhi kecepatan komponen darah saat proses transfusi dalam tubuh. Misalnya, Sel darah merah (PRC) harus habis dalam waktu 4 jam sesudah pengeluaran dari tempat penyimpanan darah, sementara FFP & platelet harus habis ±30 menit.

Efek Samping Transfusi Darah

Sejauh ini, bila transfusi darah dilakukan berdasarkan standarisasi medis yang benar, tidak akan membahayakan bagi kesehatan sama sekali. Mungkin, kamu akan merasakan efek samping yang hanya ringan, seperti:

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Merasa gatal-gatal
  • Sedikit susah untuk bernapas
  • Kulit memerah
Baca Juga :   9 Tanda Akan Melahirkan Dalam Waktu Dekat Beserta Penjelasannya Lengkap

Sementara efek samping yang jarang muncul, tapi tetap bisa terjadi sesudah melakukan hal ini yakni :

  • Susah bernapas
  • Sakit pada dada
  • Tiba-tiba tekanan darah menurun

Inilah penjelasan tentang transfusi darah. Jika kamu sedang menjalani transfusi darah yang lebih dari satu kali, maka memungkinkan adanya gangguan sistem kekebalan tubuh yang lebih besar.

Hal ini adalah dampak dari reaksi sistem kekebalan kamu terhadap darah yang memang baru saja masuk di dalam tubuh. Tetapi, kondisi ini jarang sekali terjadi dan bisa dicegah dengan cara mengecek tipe darah kamu sebelumnya, sehingga darah yang akan ditransfusikan sudah tentu cocok dengan tubuh.

Baca juga: