DNA : Pengertian, Sifat, Fungsi, Struktur, dan Replika DNA Terlengkap

Posted on
5 (100%) 1 vote

Pengertian DNA, Sifat, Fungsi, Struktur, dan Replika DNA

DNA merupakan singkatan dari deoxyribonucleic acid (dalam Bahasa Indonesia=asam deoksiribonukleat). DNA berasal dari tiga suku kata utama yakni deoxyribo, dan nucleid acid (asam nukleat). Deoxyribo artinya (Wikipedia) ialah gula yang kehilangan atom oksigennya, sedangkan arti kata asam nukleat (Wikipedia) ialah molekul yang terkandung informasi genetik. Berikut ini penjelasan DNA secara lengkap.

Pengertian DNA

DNA adalah suatu asam nukleat yang tersusun dari gen di dalam inti sel. Di dalamnya, tersimpan seluruh informasi biologis dari setiap makhluk hidup dan sejumlah virus. Tidak hanya di dalam inti sel, DNA pun ada di dalam mitokondria, kloroplas, sentriol, plastid, sampai sitoplasma.
Struktur kimia DNA berbentuk makromolekul kompleks yang terdiri atas 3 macam molekul, yakni gula pentosa (deoksiribosa), asam fosfat, dan basa nitrogen. Basa nitrogen DNA terdiri atas golongan purin, yakni adenine dan guanine, serta golongan pirimidin yakni timin dan sitosin.

Peran utamanya dari molekul DNA ialah penyimpanan jangka panjang informasi. DNA sering dibedakan dengan satu set cetak biru/resep/kode, karena isinya instruksi yang dibutuhkan guna membangun komponen lain dari sel, misalnya protein dan molekul RNA. Segmen DNA membawa informasi genetik ini dinamakan gen, namun urutan DNA lain memiliki tujuan structural/ terlibat mengatur penggunaan informasi genetik.
DNA dapat mereplikasi membentuk salinan dirinya sendiri. Setiap untaian DNA isinya sekuens basis tertentu. Setiap basis menghubungkan molekul gula dan fosfat. Bila basis telah membentuk anak tangga (horizontal), maka molekul gula serta fosfat membentuk bagian vertikal tangga tersebut.

Baca Juga :   19 Penyakit Pada Sistem Reproduksi Pria beserta Penjelasannya Lengkap

Sifat DNA

Sifat-sifat DNA antara lain:

  • Merupakan material kromosom yang membawa informasi genetik, lewat aktivitas pembelahan sel.
  • Jumlah DNA konstan di setiap jenis sel dan spesies.
  • Kandungan DNA di dalam sel bergantung dari sifat ploidi (genom) sel/ jumlah kromosom di dalam sel.
  • Tebalnya 20 Å (Amstrong) serta panjangnya ribuan Å (1 Å = 10^-10 meter).
  • Dapat melakukan replikasi,
  • Dalam sel organisme prokariotik (bakteri), DNA rantainya tunggal.
  • Pada suhu yang mendekati titik didih/ pH ekstrim (kurang dari 3/ lebih dari 10), DNA mengalami denaturasi/ membuka.

Fungsi DNA

  1. Fungsi DNA menjadi bahan warisan sel
    DNA/ Asam deoksiribonukleat adalah bahan yang bisa diwariskan pada semua sel. DNA secara tepatnya bereplikasi (memperbanyak diri) setiap generasi sel.
  2. Fungsi DNA mengendalikan aktivitas sel
    DNA dalam mengendalikan aktivitas suatu sel dilakukan untuk menentukan sintesis enzim serta protein lainnya.
  3. Fungsi DNA menjadi kumpulan unit informasi
    Gen yang adalah fragmen fragmen fungsional dari DNA berfungsi dalam menentukan rangkaian pada asam amino suatu protein.
  4. Menyintesis molekul kimia lain
  5. Menduplikasikan diri atau melakukan replikasi.

Struktur DNA

DNA ialah suatu molekul besar yang kompleks dan terdiri atas dua pita panjang yang saling berpilin untuk membentuk heliks ganda, dengan setiap pitanya termasuk suatu polimer dari ratusan sampai ribuan nukleotida. Setiap nukleotida ini terdiri atas:

  1. Gula pentosa deoksiribosa, yaitu gula pentosa (beratom 5C) telah kehilangan satu atom oksigen.
  2. Gugus fosfat, yaitu yang terikat pada atom C nomor 5 pada gula pentosa.
  3. Basa nitrogen, yaitu yang terikat pada atom C nomor 1 pada gula pentosa.

Ikatan Kimia pada Rantai DNA

  1. Ikatan fosfodiester, adalah ikatan kimia antara gugus fosfat pada satu nukelotida dan gula pada nukleotida berikutnya.
  2. Ikatan hidrogen, adalah ikatan kimia antarpasangan dari basa nitrogen.
  3. Ikatan antara gula deoksiribosa dengan basa nitrogen:
  4. Deoksiadenosin monofosfat (dAMP): merupakan antar gula deoksiribosa dan basa adenin.
  5. Deoksiguanin monofosfat (dGMP): merupakan antar gula deoksiribosa dan basa guanin.
  6. Deoksisistidin monofosfat (dCMP): merupakan antar gula deoksiribosa dan basa sitosin.
  7. Deoksitimidin monofosfat (dTMP): merupakan antar gula deoksiribosa dan basa timin.
Baca Juga :   Sistem Endokrin Pada Manusia : Pengertian, Fungsi dan Kelenjarnya Terlengkap

Struktur Heliks DNA

Dua Polnukleotida berbeda arah lalu saling bergabung dan terhubung menggunakan ikatan hidrogen (yang lemah) antara 2 basa nitrogen yang mana basa purin berpasangan dengan basa pirimidin guna membentuk suatu struktur heliks ganda bernama struktur heliks DNA.

Replikasi DNA

Replikasi atau sebagai proses menduplikasikan diri ini terjadi ketika interfasi sebelum sel membelah yang bertujuan agar sel anakan menghasilkan pembelahan yang mengandung DNA identik dengan DNA sel induk. Bila terdapat kesalahan pada proses ini, sifatnya pada sel-sel anakan akan mengalami sebuah perubahan. Berikut ini merupakan penjelasan singkat dari sebuah proses adalah:

  1. Dua rantai DNA dibuka oleh sebuah enzim helikase (no.9) melalui bantuan enzim topoisomerase (no.11).
  2. Rantai tunggal DNA dilekati oleh sebuah protein-protein pengikat untaian tunggal (no.10) yang bertujuan mencegah terbentuknya kembali heliks ganda.
  3. Enzim RNA primase (no.6) akan menggabungkan nukelotida-nukleotida menjadi primer RNA, yakni potongan pendek dari RNA.
  4. Molekul DNA polymerase (no.3 dan 8) akan melekat pada untaian tunggal DNA lalu bergerak di sepanjang untaian itu sehingga membentuk untaian DNA baru.
  5. DNA ligase (no.4) akan menyambungkan fragmen-fragmen tersebut.
    Proses replikasi DNA menjadi suatu masalah kompleks, yang melibatkan rangkaian protein serta juga enzim yang kolektif merakit nukleotida secara berurutan. Proses replikasi DNA ini dinamakan sebagai semi-konservatif.

Dari pembahasan ini, kita dapat mengetahui apa itu DNA. Struktur DNA berupa rantai ganda yang panjangnya berlawanan arah dengan RNA yaitu berupa rantai tunggal yang pendek. Lalu, kadar jumlah DNA akan tetap berlawanan dengan RNA yang tak tetap. Keberadaan DNA yang permanen pun berbeda dengan RNA yang tidak permanen sebab mudah terurai. Selamat belajar.

Baca juga: